Ilmiah Dunia dan Akhirat

Ilmiah Dunia dan Akhirat

——–

Di media sosial sering muncul artikel ilmiah , tentang kesehatan misalnya yang membahas fakta dan mitos yang biasa dilakukan masyarakat.
Fakta dan mitos ini dibahas berdasarkan keilmuan kesehatan, alasan, fakta medis , fakta ilmiah dan selainnya.

Jarang didapati orang yang membantah, menyangkal artikel tersebut, apalagi jika ia termasuk orang yang terpelajar.

Kebanyakan orang berkomentar, “oh begitu ya, baru tahu saya.”
Seraya menerima ilmu pengetahuan tersebut.

Jarang di antara kita yang berkata, “ah, nenek moyang saya dari dulu gitu kok”.

Biasanya kita malah akan berpikir kritis dan menerima fakta mitos tersebut karena memang dijelaskan sesuai keilmuannya.

Namun anehnya, jika fakta-mitos ini dibawa ke ranah agama. Dijelaskan fakta, dasar sesuai dengan keilmuan agama, dibahas secara ilmiah, dibawakan dalil dari Al Quran dan Hadits yang Shohih, sesuai dengan pemahaman Para Generasi Terbaik umat ini ( yakni Para Sahabat Nabi) , dengan mudahnya sebagian dari kita berkata

“Ah, emang dah dari dulu gitu. dari zaman si mbah.”

Bahkan meskipun orang tersebut tergolong orang yang terpelajar.

Apakah kita ini hanya bisa menerapkan keilmiahan dalam perkara dunia saja?

Apabila perkara agama, keilmiahan kita itu sekonyong-konyong hilang, tanpa mau berpikir kembali, dengan mudah terkikis oleh pemikiran,

“Ya, dari dulunya emang begitu”.

Islam Itu agama yang ilmiah, jika dalam urusan dunia kita selalu ilmiah, maka lebih layak lagi kita berilmiah dalam perkara agama kita, perkara akhirat kita.

Kalau urusan dunia, artikel , journal ilmiah, daftar pustakanya, rujukannya bisa berderet-deret banyaknya.
Namun kenapa giliran urusan agama , rasa ilmiahnya hilang blas sama sekali. Yang ada cuma satu saja isi daftar pustakanya, kata-kata andalan

” Ya dari dulu emang udah gitu, udah tradisi…”

Allah berfirman,

Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah ikuti apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?
( Al-Maidah: 104).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s