Tentang Takdir

Takdir, suatu hal yang gaib, hanya Allah saja yang tahu. Manusia hanya bisa tahu akan takdir hanya ketika takdir itu sudah terjadi. Akhir-akhir ini saya mengalami kegelisahan dan kegalauan akan masa depan, ya seperti remaja tanggung lainnya. Biasanya seputar masalah karir, rizki, masa depan, hingga urusan jodoh #eaaa

Terutama ketika kita berpindah dari fase perkuliahan ke fase pasca kuliah/karir, kebimbangan itu semakin menguat, terutama ketika menentukan langkah atau pilihan yang akan diambil. Dimana saya akan bekerja? Dimana saya akan lanjut kuliah? Startup bisnis apa yang akan saya jalani? ataupun pertanyaan klasik pada para lajang: Kapan nikah?

Ngebicarain tentang takdir emang asik, apalagi kalau sudah diskusi bareng temen, bakalan banyak teori tentang takdir yang bakal terlontar.

“Gw ga percaya takdir, setiap orang berjalan dengan pilihannya..”

Hmm..

“Takdir kayak jodoh dan rezeki udah ada yang ngatur, tinggal kita yang nyari”

Good..

“Menurutku takdir kayak flowchart, ada rangkaian sebab dan akibatnya”

Maybe..

Mendengar definisi yang berbeda-beda akan takdir membuat saya mengalami kegalauan dan kebimbangan akan seperti apakah konsep takdir yang benar, tentunya tidak dengan parameter akal semata namun harus didukung dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Saya mencoba mencari-cari pengetahuan, entah dari internet, diskusi, ataupun bertanya pada mentor.

Perbedaan konsep takdir

Ternyata perbedaan konsep tentang takdir sudah ada sejak lama, terdapat dua kutub dalam memahami takdir: Qadariyyah dan Jabariyyah.

Kelompok pertama adalah yang paling ekstrim. Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh.

Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang ta’at dan berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya. Inti pemahaman kelompok Qadariyyah ini bahwa manusia tidaklah terikat dengan adanya takdir, setiap manusia berjalan murni dengan pilihannya.

Di kelompok yang bersebrangan ada Jabariyyah. Kebalikannya dari Qodariyyah yaitu kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir, tidak ada yang namanya pilihan atau usaha.

Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah

(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81] : 28-29).

Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas. Pada ayat,“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri.

Kemudian pada ayat selanjutnya,”Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” merupakan bantahan untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.

Lalu seperti apa konsep yang benar?

Seluruh takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena).

Allah berfirman kepada qalam tersebut,

“Tulislah”.

Kemudian qalam berkata,“Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?”

Allah berfirman,“Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).

“Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (terjemahan HR Muslim No. 2653 [16], Tirmidzi No. 2156, Ahmad II/169, abu Dawud ath-Thayalisi No. 557; dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash r.a.; lafazh ini milik Muslim)

 

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(Al-An’am: 59)

Takdir untuk seluruh makhluk sudah dicatatkan oleh Allah 50.ooo tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, termasuk seorang hamba masuk surga atau neraka, benarkah? yuk coba simak hadits ini

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali Allah telah menetapkantempatnya di surga atau tempatnya di neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (kalau demikian) apakah kita tidak bersandar saja pada ketentuan takdir kita dan tidak perlu melakukan amal (kebaikan)?” Rasulullah saw bersabda, Lakukanlah amal (kebaikan),karena setiap manusia akan dimudahkan (untuk melakukan) apa yang telah ditetapkan baginya; manusia yang termasuk golongan orang-orang berbahagia (masuk surga) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang berbahagia (amalan ahli surga) dan manusia yang termasuk golongan orang-orang yang celaka (masuk neraka) maka dia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan orang-orang yang celaka.” Kemudian, Rasulullah saw membaca (firman Allah): “(QS Al-Lail ayat 5—10).” (terjemahan HR Bukhari No. 4666 dan Muslim No. 2647)

Wallahu a’lam


Beberapa sumber:

aslibumiayu.wordpress.com
muslim.or.id
rinahuntxtnuh.wordpress.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s