LOST

SONY DSCSemasa studiku di kampus aku membuat suatu keputusan yang menjadi tolak balik kehidupanku saat ini, keluar dari ‘jama’ah’ yang bertahun-tahun pernah membersamaiku..

—————————————————

Ketika itu aku masih sangat muda, ghirah keislamanku sedang sangat tinggi, semangat yang meluap-luap sekaligus sangat rentan untuk ditanami segala macam pemikiran. Aku bertemu dengan seseorang senior yang mengajaku untuk berbicara tentang Islam yang ‘kaffah’, istilah jihad, hijrah, dan lainnya tidak asing buatku saat itu.

Hingga akhirnya aku pun tertarik untuk berdiskusi lanjut, obrolan pun meluas hingga bahasan pada kondisi negara saat sekarang dengan bagaimana kondisi ideal seharusnya, keadaan kaum muslimin yang tertindas, hingga bahasan-bahasan yang memancing emosi saat itu. Aku pun diajak untuk berkenalan dengan seseorang yang akan membimbingku.

Aku dijemput oleh seniorku pagi-pagi, aku akan diajak untuk berkenalan dengan seseorang seperti yang telah direncanakan kemarin. Aku dibonceng ke suatu jalan raya, kemudian aku disuruh untuk masuk ke dalam mobil ‘seseorang’ yang dimaksud itu. Aku sudah didalam mobil, prosesi ikrar/bai’at di dalam mobil pun berjalan. Aku hanya membaca dua kalimat syahadat sambil bersalaman, tidak ada yang aneh kecuali hanya tempatnya yang kenapa harus di dalam mobil . Akhirnya aku sudah resmi menjadi anggota dari jema’ah mereka.

Aku  sangat aktif mengikuti pertemuan-pertemuan yang mereka adakan, aku sudah merasa sangat nyaman dengan suasana kekeluargaan yang ada disini, aku sudah sangat mengenal teman-teman se-jemaahku. Semoga kalian selalu dalam taufik dan rahmat Allah kawanku..

Selang beberapa lama aku menyadari ada beberapa hal yang janggal disini..

Mereka menamakan dirinya sebagai ‘masyarakat Islam’ atau ‘dinul Islam’, diluar mereka adalah kafir, atau minimal fasik. Akupun bertanya kalau begitu ayah ibuku kafir, teman-temanku kafir? mereka menjawab “ya itu tugasmu untuk membawa mereka kemari (mendakwahkan)”. Saat itu dikarenakan karena kebodohanku akan din aku menerima mentah-mentah logika berpikir seperti itu. Mirip dengan pemikiran khawarij. Perkara mengkafirkan orang lain tanpa dasar ilmu syar’i merupakan hal yang fatal, bukan atas dasar apakah orang itu di suatu jema’ah tertentu atau bukan, namun harus berdasarkan pada petunjuk kitabullah.

Syariat agama ini udah jelas ketentuannya, mana yang haq dan bathil. Kita ga boleh antipati terhadap label kafir karena emang jelas-jelas di Quran dan hadits dijelaskan. Cuma saja dalam melabeli org kafir atau engga harus ada dasarnya, bukan cuma parameter hizb (golongan) saja. Seperti kalau dia lahirnya muslim (masih ngerjain rukun iman dan islam) maka kita ga boleh memvonis, kecuali apabila dia secara jelas melakukan perbuatan yang mengeluarkan dari Islam. Perbuatan apa aja yang mengeluarkan dari Islam itu bisa dibaca di kitab Tauhid karangan Shalih bin Fauzan sebagai referensi.

Seorang senior berkata kalau shalat jum’at itu tidak wajib, karena shalat jum’at itu adalah urusan negara sedangkan kondisi saat ini tidak ada negara Islam. Akupun bertanya, “Loh bukannya ini konsep negara syi’ah Iran dimana kalo presidennya ga datang jum’atan maka shalatnya bubar?”, “ya memang konsep seperti inilah yang benar..” Innalillahi, sungguh perkataan yang sangat jauh dari ilmu.

Konsep-konsep yang ada sangat negara-sentris, bahkan menyangkut urusan ibadah seperti shalat jum’at. Begitu juga shalat berjema’ah di masjid pun nyaris ditiadakan atau bukan dianggap sebagai amalan sunnah (bahkan dianggap munfarid karena imam shalat dianggap tidak ‘Islam’).

Belum lagi dengan pimpinan yang dirahasiakan, demi rahasia keamanan mereka bilang. Bukannya Rasulullah pun adalah sosok yang seantero mekkah bahkan jazirah Arab pun tau siapa beliau. Kalau begitu siapa yang mesti ditaati.

Setiap pertemuan yang diadakan jarang sekali membahas tentang perkara yang penting dalam din ini, seperti tauhid, akhlak, ibadah maupun fiqh. Ditanya mengapa seperti itupun mereka menjawab, “Tauhid, akhlak, atau yang lainnya bukan urusan penting sekarang, yang penting Negara Islam sudah tegak baru kita bahas, lagipula kalian bisa juga belajar itu di tempat lain atau buku”. Bahasan dalam setiap pertemuan selalu tentang strategi dalam merekrut orang lain dan targetan/progress terkini. Tidak heran jika selama berada disini jiwa saya kering, tidak mengerti tentang akhlak, boro-boro ditanya tentang ilmu Islam. Hal ini sangat jauh dari tuntunan Rasul dan para salafus-salih. Kalaulah mendirikan negara Islam itu sedemikian urgent-nya tentulah Rasul dan para sahabat akan memfokuskan dakwah mereka pada hal ini, bahkan kalo perlu ada ayat langsungnya memerintahkan akan hal ini. Sungguh generasi merekalah sebaik-baik generasi. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menegakkan tauhid terlebih dahulu barulah kemudian Allah memberikan hadiah kepada kaum muslimin dengan diwujudkannya kekuasaan (khilafah) bagi mereka. Bukan sebaliknya, khilafah dulu baru semua penyimpangan diselesaikan.

—————————————————

Waktu berselang, puncaknya aku mundur perlahan hingga memutuskan untuk keluar. Aku bertanya pada ulama dan teman-teman terdekatku, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Ilmu di atas amal, konsep berislam yang aku temukan tidak banyak pada mereka. Pemahaman atas ayat Al-Quran dan hadits tidaklah bersumber pada pemahaman yang benar.

Aku yakin masih banyak orang-orang yang mempunyai pemahaman Islam dengan benar, tidak tercampuri dengan liberal, khawarij, murjiah, syi’ah, atau penyimpangan lainnya. Aku pun yakin diluar sana ada sekelompok muslim yang berada dalam jalan yang benar, entah apapun labelnya.

Aku sempat menyesali, namun segala sesuatu telah Allah tetapkan dalam kitab-Nya. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Allah-lah sebaik-baik pemberi petunjuk.

4 thoughts on “LOST

  1. roji,
    ami masih inget waktu kita ngobrol bertiga sama fitri di depan perpus pulang sekolah waktu kelas xi (dan yakin roji pasti udah lupa, hehe)

    ami sama sekali ga ngira kalau pemahaman “jamaah” yang roji ikuti ternyata kaya begitu😐

    udah 6-7 tahun ya dari waktu itu, waktu dimana kita mulai semangat2nya belajar islam, dan pasti udah begitu banyak hal yang terjadi sampai sekarang. Banyak pemikiran baru yang ditemui, dan ilmu baru yang dipelajari. Ami pun sama.

    Jalan apapun yang kita tempuh saat ini, semoga kita senantiasa berada dalam bimbingan dan ridha Allah ya, dan semoga Allah Mengizinkan kita menjadi orang2 yang istiqamah memperjuangkan din-Nya. Aamiin.

    • Sedikit ingat kok mi, obrolan yang emang cukup serius kan..

      Saya pun tidak menyangka seperti itu kok mi, tapi Alhamdulillah Allah masih tunjukan jalan yang lurus. Semakin dewasa emang makin banyak hal baru yang ditemukan, termasuk ilmu atau pemikiran.

      Amin Mi, apalagi di zaman yang banyak ‘fitnah’ ini diperlukan kerendahan hati kita untuk selalu berdoa agar ditunjukan jalan yang lurus, semoga kita dan teman-teman yang lain selalu tetap dalam jalan yang lurus ya.

  2. btw infonya keren and berguna. , Kita memang harus bisa memanfaatkan semua ini mas, ada peluang harus kita ambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s