Menggali kembali makna sabar dan syukur

 

Andaikan sabar dan syukur adalah dua tunggangan, aku tak peduli yang mana yang harus kukendarai (Umar bin Khattab)

Sabar dan syukur, kedua istilah ini merupakan dua istilah yang seringkali ditautkan. Bahkan Allah telah menjadikan sabar sebagai kedermawanan yang tidak pernah suram, senjata akurat yang tidak pernah meleset, pasukan gagah perkasa yang tak pernah kalah, dan benteng kuat yang tidak pernah runtuh. Allah telah menganugerahkan pahala yang sangat besar pada orang-orang yang bersabar

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az-Zumar: 10)

Pernah disebutkan seorang wanita terkena musibah pada tangannya, lalu dia memuji Allah atas musibah itu. Mereka bertanya padanya, “Mengapa kamu memuji Allah, padahal tanganmu terkena musibah?”, jawabnya, “Sesungguhnya manisnya pahala atas musibah itu melupakan akan pahitnya kesabaran”.

Seringkali sabar tersuramkan maknanya, seperti beberapa rekan saya apabila mereka ditimpa suatu ujian atau musibah dan disuruh bersabar malah mengatakan, “Percuma bersabar, bersabar tidak akan menyelesaikan masalah!“. Sabar menjadi rancu maknanya ketika dimaknai berdiam diri, tidak mengerjakan apa-apa. Padahal makna sabar adalah sabar dalam ketaatan, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah, sabar terhadap takdir Allah yang tidak disukai, ataupun pengertian luasnya sabar dalam menjalankan suatu ikhtiar.

Syukur pun seringkali dimaknai berpuas diri. “Jangan terlalu cepat bersyukur, nanti ga bisa berkembang” kata-kata ini nampak benar di permukaan namun salah maknanya. Tahukah apa bedanya bersyukur dengan berpuas diri? Berpuas diri adalah kondisi dimana seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya, lalu tidak ada gairah untuk menggapai yang lebih tinggi. Benarkah makna bersyukur dan berpuas diri sama? Coba kita lihat ayat ini.

Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat untuk kalian. Dan jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih” (Ibrahim: 7)

Kita yakin bahwa dengan bersyukur maka Allah berkenan untuk menambah nikmat untuk kita. Tapi pernah kita berpikir pemahaman terbalik dari ayat ini? Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan tambahan nikmat dari Allah? Bersyukur jawabnya. Lalu siapakah orang yang paling mensyukuri nikmat Allah? Mereka adalah orang-orang yang ingin menggapai lebih tinggi, yang memburu selalu cucuran nikmat dan rahmat-Nya. Mereka ini bukanlah orang yang cepat berpuas diri. Mereka selalu menjadi orang yang selalu membutuhkan nimat-Nya, semakin tinggi dan semakin tinggi.

Tapi kita jangan merancukan makna syukur dengan sifat qana’ah (merasa cukup). Qana’ah adalah perasaan sadar akan kedudukan kita sebagai makhluk dan hamba Allah. Bahwa segala takdir maupun rizki yang kita dapat semata-mata atas ijin Allah, bukan atas usaha semata kita. Melalui sifat qana’ah inilah hati kita selalu tenang dan tentram. Dengan qana’ah jualah kita dituntun untuk mensyukuri pemberian dari-Nya.

Terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat. Maka bersyukurlah bukan berpuas. Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang Allah berikan untuk menggapai lebih tinggi. Yang berharta janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu janganlah puas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas janganlah puas sekarang baring dan duduk. Tapi bangkitlah dan berdirilah.

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. (Riwayat Muslim)

 

Disarikan dari “Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A Fillah” dan “Tazkiyatun Nafs, Ahmad Farid”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s