Manglayang, Sang Penjaga Cekungan Bandung dari Timur

Gunung Manglayang adalah sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 1800 mdpl, terletak di perbatasan Kab. Bandung-Sumedang, menurut Budi Brahmantyo seorang pakar kebumian dari ITB

Morfologi Gunung Manglayang berbentuk aneh. Bagian puncaknya membentuk lekukan-lekukan seperti mahkota longsoran raksasa berdiameter 4-5 kilometer. Tiga buah lekukan-lekukan raksasa dengan lereng-lereng atas yang terjal dapat dikenali. Satu di antaranya membentuk lembah dalam ke arah Bumi Perkemahan Kiarapayung, lereng atas Jatinangor.

Tekstur permukaan Gunung Manglayang tampak kasar jika dilihat dari jauh, dari udara, atau melalui citra satelit. Lembah-lembahnya menoreh tajam menghasilkan pola jaringan sungai dendritik, seperti ranting-ranting pohon, atau jalinan urat saraf. Ciri demikian menunjukkan bahwa hanya proses erosi yang bekerja di atas Gunung Manglayang. Tidak ada lagi produk-produk vulkanisme yang menutupi torehan-torehan erosi yang mengukir kasar permukaannya.

Dan memang begitu melihat langsung Manglayang kontur gunung ini sedikit nyeleneh, pada bagian punggungan bukit membentuk suatu gelombang mengarah horizontal.

Mendaki Gunung Manglayang bisa melalui 2 jalur umum:
-Yang pertama adalah lewat Buper Kiarapayung (dekat kampus Unpad Jatinangor, tinggal lurus ke atas melewati padang golf lalu melewati sebuah kampung yang bernama Barubeureum, jarak sekitar 4 km)
-Atau bisa juga lewat Buper Batukuda (masuk lewat jalan sekitar cibiru/cileunyi, naik ke atas)
jalur yang kita lewati adalah Kiarapayung karena itulah jalan tersingkat namun lebih menanjak.

Setelah persiapan logistik untuk perjalanan naik pagi pulang petang, kami menjemput teman sekaligus penunjuk arah kami si Salman di Cicaheum. Si Salman ini teman saya yang kenalan alias nemu di gunung, perawakannya kecil namun penuh dengan otot, fisiknya luar biasa kuat, wawasan ke-gunungannya luas, seketika saja karena kami-kami ini masih newbie kami jadikan dia pelatih. Bila mau merencanakan untuk naik dan turun dengan jalur yang sama disarankan untuk pake motor, karena akses kesana tidak ada angkot dari Unpad kalo maupun naik ojeg min 10rb.

Melewati jalan semi offroad akhirnya sampe juga di Barubeureum, setelah makan-makan di warung si bibi dan berdoa serta pemanasan kami melanjutkan ke atas.

Ketika kami berjalan, tiba-tiba saja ada warga yang berteriak “Bagong!! aya Bagong!!(Babi!! ada Babi!!)”, begitu kami lihat ke bukit sebelah benar saja ada makhluk hitam sebesar kambing dari kejauhan sedang meloncat-loncat, mungkin babi liar yang masuk ke pemukiman.

Saat itu suhu lumayan panas entah mengapa, melewati jalan setapak agak licin bekas diguyur hujan kemarin malam, keseimbangan harus dijaga hati-hati. Konon waktu untuk sampai ke puncak normalnya 2 jam, bahkan si Salman pernah naik cuma 30 menit! namun kami mencapainya dengan waktu 3 jam, maklum setelan turis hehe.

Jalan ke atas terus menanjak tak kenal ampun bahkan tidak ada jalur bonus, hanya ada tangga-tangga akar dan batu ada juga yang hanya tanah gembur, kemiringan sekitar 40-70 derajat. Sepanjang perjalanan kami tidak menjumpai persimpangan kecuali begitu di puncak bayangan, selalu ambil jalan yang mengarah ke atas.

Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam, kita akan menemui suatu tanah datar, ini adalah jalan persimpangan, bila ambil ke kiri ke puncak bayangan bila ke kanan langsung ke puncak utama. Ada baiknya ke puncak bayangan dulu karena sangat dekat dan pemandangannya terbuka sehingga bisa melihat ke hamparan kota Bandung.

Di puncak bayangan

 

Dari sini, menuju puncak utama jalan cukup landai dan menyenangkan, waktu tempuh hanya 20 menit.

Di puncak utama tanah datarnya cukup luas mungkin sebesar lapang futsal, ada juga makam keramat (menurut Salman itu bukan makam beneran). Dari puncak utama ada jalan turun ke Batukuda.

Makan dan bersantai hukumnya wajib ketika berada di puncak, setelah itu tiba-tiba saja turun hujan agak deras, kamipun packing bergegas turun ke bawah.

Tiba-tiba saja jalan yang barusan kami lewati menjadi sebuah serodotan panjang karena saking licinnya, sudah tidak terhitung berapa kali terpeleset, alhasil jalan jongkok di turunan sambil pegang ranting menjadi pilihan agar tidak terpeleset. Baju yang asalnya rapi dan bersihpun jadi kotor oleh lumpur.

1,5 jam kemudian kami berhasil turun ke bawah dengan selamat.

Foto Sang Macan Gunung, Salman:

*naik gunung bukan sekedar gagah-gagahan, don’t judge a mountain by its height, selalu pertimbangkan fisik, teknik, taktik, mental, dan logistik ketika naik gunung

//

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s