Ketika itu di Raudhah

Pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 alhamdulillah Allah masih mengijinkan saya berkunjung ke kota Madinah setelah sebelumnya melakukan kegiatan umrah selama 4 hari di Mekah.

Kota Madinah, kota dimana Nabi banyak sekali menghabiskan umurnya disini merupakan sebuah kota yang bergelar “kota yang bercahaya”, kota dimana basecamp perjuangan Islam dibangun disini hingga akhirnya bisa menaklukan kota Mekah, negara Arab, hingga ke seluruh pelosok dunia. Saya datang ketika sedang musim dingin, Madinah merupakan kota yang lebih dingin dari Mekah (pagi sekitar 18 C) hingga terkadang mengharuskan memakai jaket. Sekarang ini, secara segi estetika, Madinah lebih tertata rapi dan bersih dibanding Mekah, mungkin salah satu penyebabnya karena Mekah masih dalam pembangunannya yang besar-besaran.

Daya tarik kota ini ada pada masjid Nabawi, masjid yang begitu megah dan besarnya yang sarat akan sejarah dan keutamaan-keutamaan di masjid ini. Dalam sabda Nabi:

“Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram, (karena shalat di Masjidil Haram lebih utama).”( HR. Al-Bukhari, Muslim serta yang lainnya dari hadits Abu Hurairah)

————————————-

Raudhah yang begitu berkesan

Waktu menunjukan jam 22.00 waktu Saudi, ditemani dengan temannya Ayah saya, saya meniatkan pergi ke bagian depan masjid tempat yang dekat dengan makam Rasulullah karena terdorong rasa ingin tahu. Jalan dari hotel sampai sana cukup jauh karena hotel terletak di bagian belakang masjid ditambah dengan dinginnya udara malam itu. Ya sampailah di bagian depan masjid, melepas sendal lalu masuk. Jamaah begitu banyak dan berdesakan, tapi masih cukup untuk lewat. Hingga akhirnya terlihatlah sebuah mimbar cukup tinggi tempat rasulullah biasa berkhotbah, dari tempat itu sampai makam beliau (yang dulunya ketika beliau masih hidup masih menjadi rumahnya) adalah tempat dimana Rasululullah biasa membacakan wahyu dan mengajarkan Islam.

“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) diantara taman-taman surga”.(Musnad Ahmad bin Hanbal)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lalu berdirilah saya pada suatu gerbang dengan warna emas, ya sekarang saya di depan makam manusia paling agung dalam sejarah umat manusia! seorang manusia yang menjadi prototype permodelan yang diutus oleh Allah untuk diikuti oleh manusia yang lain. Entah ada semacam perasaan berdebar, bagaimana kalau saya berhadapan dengan Rasulullah. Ada perasaan haru, dan juga malu; betapa banyak ajarannya yang seringkali saya lupakan, seolah-olah beliau bertanya apa saja sunnah-sunnahku yang sudah engkau kerjakan.

Tambah lagi karena ketidaktahuan saya, setelah mendengarkan ternyata disini tidak hanya makam Rasulullah seorang, tapi juga makamnya Umar dan Abu Bakar, ah rasanya tangis saya ingin pecah berada di makam 3 orang yang sangat agung dan hebat itu akan perjalanan hidupnya.

“Assalamualaika ya Rasulullahi wabarakatuh, assalamualaika ya Aba bakr, assalamualaika ya Umar (Kesejahteraan, rahmat dan berkat Allah kepada-mu wahai Rasulullah, kesejahteraan bagimu wahai Abu Bakr, kesejahteraan bagimu wahai Umar)”

Setelah melakukan shalat mutlak 2 rakaat, saya berdoa agar bisa meneladani beliau dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s