Sandal Kulit Sang Raja


Di suatu negeri antah berantah terdapatlah sebuah kerajaan…disana hidup seorang raja beserta rakyatnya.

Suatu ketika Sang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali, aku harus memperbaikinya.”

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pria tua yang terkenal bijaksana menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai paduka, mengapa paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, PADAHAL SESUNGGUHNYA YANG PADUKA PERLUKAN HANYALAH DUA POTONG KULIT SAPI UNTUK MELAPISI TELAPAK KAKI PADUKA SAJA.”

Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut ‘Sandal’.

——————————————————————————————————-

Kawan, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia itu harus sesuai dengan ego diri kita.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia adalah bayangan diri kita sendiri.

“Jika kita ingin melihat dunia ini berwarna merah,maka kita tidak perlu untuk mengecatnya menjadi merah,namun yang kita perlukan hanyalah memakai kacamata merah..”kakak mentorku pernah bilang seperti itu.

Ya, memang jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit atau melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s