Di Bawah Naungan Al-Qur’an

Oleh Sayyid Quthb

Di bawah naungan Al-Qur’an
Aku merasakan nikmat yang tak terkira
Yang tak dapat dimengerti orang lain

Di bawah naungan Al-Qur’an
Kutemukan adanya alam akhirat
Lebih besar dari dunia yang terlihat

Di bawah naungan Al-Qur’an
Ternyata manusia lebih terhormat
Daripada di hadapan manusia sendiri

Di bawah naungan Al-Qur’an
Kutemukan tak ada yang kebetulan
Di setiap nafas dan gerak semesta raya

Di bawah naungan Al-Qur’an
Dapat kulihat campur tangan Tuhan
Di setiap peristiwa dan kejadian

Di bawah naungan Al-Qur’an
Kulihat keindahan yang sangat mengagumkan
Di setiap detail kehidupan yang harmoni ini

Di bawah naungan Al-Qur’an
Aku merasa sangat mulia dan terhormat
Karena Tuhan berbicara langsung kepadaku melalui kitab ini

*Sayyid Quthb, seorang ilmuwan, sastrawan, pemikir, sekaligus seorang ulama dari mesir.
Beliau lahir di kampung Musyah, kota Asyuf, Mesir pada tahun 1906. Beliau telah bergelar hafizh sebelum berumur 10 tahun. Kehidupannya berakhir di tiang gantungan pada tanggal 20 Agustus 1966 karena tuduhan pemberontak oleh pemerintah Mesir. Ia dikenal sebagai tokoh yang totalitas berjuang untuk agamanya, menyerahkan seluruh hidupnya untuk Allah, seorang mukmin yang begitu kuat keyakinannya. Ia persembahkan nyawanya yang ‘murah’ kepada keyakinan dan akidahnya. Ia lewati bertahun tahun usia terakhirnya di penjara. Ia tuangkan jiwa dan pikirannya yang luar biasa dalam lembar-lembar tulisan tangannya dengan untaian kata yang penuh makna dan bernilai sastra. Hampir semua orang yang membacanya, bisa merasakan getar ruhani dan pikirannya dari bunyi tulisan penanya yang tercantum hebat dalam karya-karya tulisnya. Karya-karyanya yang terkenal antara lain tafsir Fi Zhilalil Qur`an, Ma’aalim fith-Thariq, At-Thaswir Al-Fanni fil Qur`an, As-Salam Al-Alami wal Islam, Asywak Dirasat Islamiyah, Fit Tarikh Fikratun wa Minhaj, Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din, Al-Islam wa Musykilatul Hadharah, Al-Adalah Al-Ijtima’iyah fil Islamdan lain-lain. Fi zhilalil Qur’an dan Ma’aalim fith-Thaariq –keduanya ditulis selama dalam penjara—menjadi karya monumental yang tiada lekang dimakan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s