Selamat Tinggal Ayah

Kullu nafsin dza iqotulmaut.

Sungguh yang bernyawa pasti akan merasakan kematian..

Ayahku, seorang pekerja keras, seorang perantau dari kampung, anak sulung, yang perantaunya ke kota diharapkan kesuksesannya.

Qadarallah, hasil kerja kerasnya tercapai.

Adakalanya kematian didahului dengan sakit yang begitu parah, namun tidak sedikit yang mengalami kematian ketika dalam kondisi sangat sehat dan tiba-tiba. Begitu pula dengan Ayahku. Beliau sudah sering sakit sejak lama. Batu ginjal, diabetes, dan pengapuran sendi ialah penyakit yang sebelumnya pernah dideritanya, namun Allah menghendaki kesembuhan atas penyakit itu.

Di balik kesungguhannya dalam menafkahi keluarga, seringkali beliau mengabaikan kesehatannya.


Awal tahun 2016, aku pulang dari dari tanah Minangkabau setelah 4 bulan perjalanan dinas disana. Saya sangat merindukan bertemu kedua orangtuaku dan keluargaku. Begitu tiba di Bandung, aku disambut dengan hangat oleh keluargaku. Saya diberi compensation leave yang cukup lama oleh perusahaanku, hampir 3 minggu. Selama itu saya habiskan bersama keluargaku. Hingga akhirnya aku menyadari,  itu adalah skenario Allah yang mengijinkanku menemani Ayahku; yang masih sehat; dalam waktu yang cukup lama.


Bulan April 2016, sakit ayahku semakin tambah parah. Beliau sudah divonis kanker semenjak setahun lalu namun tidak parah. Kali ini kankernya semakin menjalar, dari kanker nasofaring stadium awal hingga merembet ke kanker hati. Ayahku selalu terbaring di ranjangnya dengan sangat lemah, berat badannya turun drastis lebih dari 20 kg. Untuk berjalan pun harus dipapah, aku tidak tega ketika memapah tubuhnya yang sangat kurus, aku bisa merasakan langsung tulang rusuknya yang keras.


Awal Mei 2016, saya pulang dari Jakarta ke rumahku di Bandung. Ketika itu Jum’at malam, saya melihat Ayahku ternyata sakitnya semakin bertambah parah. “Pah, kenapa kamu tambah kurus?”, “Rul, Papah udah ga bisa makan, kehalang kerongkongan papah”. Aku pun menangis. Ayahku selalu memintaku untuk memijat kakinya dan membacakan surat Yasin. Tidak lama setelah itu beliau dilarikan ke rumah sakit Al-Islam Bandung yang tidak jauh dari rumah.

Firasat itu selalu ada, saya selalu merasa Ayah akan meninggalkan kita dalam waktu yang dekat, entah tahun ini atau tahun depan mengingat kanker hatinya sudah masuk stadium 4, sel kankernya sudah mengalir sampai ke darah.


Akhirnya hari itupun tiba.

Senin, 16 Mei 2016, 13:20, adalah hari duka untukku..ketika aku melihat orang yang kucintai, Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya, ketika ruhnya meninggalkan jasadnya; meneruskan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh seluruh manusia, berpindah dari alam dunia ke alam barzakh (alam kubur). Kematian yang begitu cepat dan tidak disangka.

Yaayyatuhannafsul muthmainnah, irjii ila robiiki rodiyammardiyyah. Fadkhuli fi ibadi wadkhuli jannatii.. (Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaku dan masuklah ke dalam surgaku). Penggalan ayat terakhir surat Al-Fajr, saya membisikannya ke telinga Ayahku ketika dia terbaring menghadapi sakaratul maut.

Sesungguhnya hanya untuk Allahlah
dan kepada Dialah kita kan kembali.

Saya memandikannya sebagai baktiku yang terakhir kalinya. Kemudian kami menggotongnya ke dalam pakaian terakhirnya, kain kafan yang putih. Saya bisa melihat raut wajahnya yang terlihat seperti tersenyum.


Raungan sirene ambulance memecah jalan, mengantarkan Ayahku untuk mengunjungi rumahnya di dunia untuk terakhir kali, sekedar singgah untuk disolatkan. Setelah maghrib ketika beliau selesai disolatkan, kami mengantarkannya ke Kampung kelahirannya yang akan jadi tempat istirahatnya juga yang terakhir. Ayahku dimakamkan di tengah malam, suasana ketika itu sangatlah hening dan mencekam.

Kampung Cibiuk, Garut. Biasanya saya mengunjungi kampung ini dengan ayahku untuk bersilaturahmi dengan nenek dan keluarga disana. Ya, akhirnya saya berkesempatan
ke kampung ini dengan Ayahku setelah sekian lama.

Namun sayang.

Beliau hanya diijinkan untuk diantarkan ke kampung kelahirannya, bukan untuk pulang bersama kembali.


Jazakallahu khairan katsiran atas kebaikanmu selama di dunia yah, semoga Allah membalas segala kebaikanmu di dunia, menerima Iman dan Islam mu, memuliakanmu, memaafkan segala kesalahanmu, melapangkan kuburmu, memasukanmu ke Jannah-Nya, dan melindungimu dari azab kubur maupun azab neraka.

Semoga kelak kita bisa bertemu kembali di surga-Nya Allah, amin.

 

Sekilas tentang DCS

DCS yang dimaksudkan disini adalah Distributed Control System, dibahasakan Sistem Kontrol yang ter-distribusi. DCS adalah platform untuk kontrol dan automasi serta operasi pada plant maupun proses industri. DCS mampu mengkombinasikan: Human Machine Interface (HMI), rangkaian logic/sequence plant, historian, database, alarm management, dan fungsi engineering; semuanya dikombinasikan pada perangkat DCS. Ringkasnya fungsi DCS pada plant sama halnya dengan fungsi otak dalam tubuh manusia.

Capture

Dalam hirarki Plant DCS menempati posisi sebagai Sistem Kontrol Produksi; sejajar dengan SIS (Safety Instrumented System) atau juga PLC (Programmable Logic Control) , difungsikan untuk sistem kontrol dalam plant. Adapun hirarki atasnya yaitu Manajemen Produksi dan Manajemen Korporasi diperuntukan untuk pengolahan data maupun kontrol dalam sudut pandang korporasi, untuk meningkatkan nilai keuntungan/keefektifan dari suatu plant maupun banyak plant.

source: Yokogawa Electric Corporation

Fatwa Ulama Seputar Penguasa di Era Kontemporer

E-book “Fatwa Ulama Seputar Penguasa di Era Kontemporer“, kumpulan dari fatwa-fatwa ulama yang menisbatkan pada salaf (terdahulu, yaitu para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in). Di dalamnya dibahas tentang pembahasan seputar ulil amri/pemimpin dan syubhat-syubhat tentang ketaatan pada ulil amri. Dikarenakan dewasa ini muslimin Indonesia bermudah-mudahan sekali dalam mencela pemimpin dan mengobarkan pemberontakan pada pemimpin, baik yang berat (fisik secara senjata) sampai cuma celaan di medsos, yang menunjukan kurangnya ilmu dan akhlak.

Akibat jangka panjang dari celaan pada pemimpin dan berlepasnya ketaatan ini bisa runyam..bagaimana kalau setiap kata-kata kotor yang kita tujukan pada pemimpin dikabulkan oleh Allah, makin apeslah urusan dunia kita, akhirat pun kaga dapet. Efek paling buruknya adalah pemberontakan fisik/perang..jadi teringat cerita kakek nenek saat jaman selepas kemerdekaan; pemberontakan hebat di daerah Garut (Malangbong, Limbangan, Wanaraja, Kamojang dan sekitarnya), orang tua dulu biasa menyebutnya “Gorombolan”. Yang bahkan terjadi di daerah nusantara lainnya.

Link Download buku: http://bit.ly/buku1abulfatih
Semoga menjadi amal jariyah bagi akh Ristiyan dan Ma’had Al-Muhandis..

Menunda S2 / S3?

Menunda S2 / S3

———

Bagaimanakah cara berwudhu yang sesuai tuntunan Nabi ?

Bagaimanakah cara sholat yang sesuai tuntunan Nabi ?

Bagaimana hukum mempercayai zodiak, feng shui , angka 13 dalam Islam ?

Apa Itu Syirik ? Apa itu Bid’ah ? Bagaimana contoh-contohnya ?

Bagaimanakah Niat Sholat, Wudhu, Puasa yang sesuai tuntunan Nabi ? Sebutkan dalil shohihnya dari Nabi.

Jika kita tidak bisa menjawab dengan yakin satu saja pertanyaan di atas, maka mengurungkan niat untuk melanjutkan S2 atau S3 demi mempelajari Itu semua jauh lebih dicintai oleh Allah.

Jika untuk perkara dunia kita selalu ingin terdepan, pintar, pakar, ahli.

Mengapa tidak demikian juga untuk perkara akhirat ?

Nabi pernah bersabda,

“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”.
(Hadits dalam Shohihul Jami, dishahihkan oleh al-Albani)

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Mengingat Kematian

Bagaimanakah Hidayah Turun ?

——–

Salah satu hal yang bisa membuka diri seseorang untuk mencari dan mendapatkan hidayahNya adalah dengan mengingat kematian.

Coba merenung dan mengingat mati, tanyakanlah kepada diri sendiri,

“Masa mau begini-begini terus? Nanti gimana kalau saya mati “.*

Mulai dari situlah rasa takut kepada Allah akan muncul, takut akan hisabNya, takut akan balasan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan, takut akan adzab Neraka.

Sungguh benar perkataan Nabi,

Beliau pernah bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) ”

(HR. Ibnu Hibban, Shohih ).

* perkataan seorang teman di awal ia mulai mendapatkan hidayah.

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Menginginkan Khilafah, Tapi….

Menginginkan Khilafah, Tapi….

———

Orang-orang zaman sekarang,

Mayoritasnya banyak yang meremehkan kewajiban-kewajiban mereka,

Bergelimang dalam keharaman,

Namun mereka menginginkan supaya Allah memberikan kepada mereka pemimpin yang seperti Khulafaur Rosyidin,

Sungguh Jauhnya…..

( Disarikan dari Perkataan Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadush Shalihin)

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Tentang Kematian

Kematian,

Sejatinya adalah awal kepulangan kita ke kampung halaman setelah bertahun-tahun merantau di dunia ini.

Barang siapa yang menyiapkan bekal kebaikan, maka indahlah rumah kembalinya kelak.

Barang siapa yang tak berbekal, maka hancurlah sudah tempat kembalinya nanti.

Sesungguhnya hanya untuk Allahlah
dan kepada Dialah kita kan kembali.

Teruntuk saudaraku yang sedang berduka,

Semoga Allah mengampuni dosa Almarhum, meluaskan kuburnya, memasukkannya ke dalam SurgaNya, menjaga beliau dari siksa kubur & Neraka.

Semoga engkau mendapatkan pahala yang besar atas kesabaranmu…

Dari status fb Akh Boris Tanesia