Kasihanilah Dirimu

[ واقعنا ]

هناك من الناس من يتكلم في الإسلام ونهضة الأمة كأنه أسد كبير ومجاهد جليل

لكنه — يا مسكين — لا يعرف من المستقيمين على طلب العلم
لا يريد دراسة العربية ولا تحسين التلاوة لا سيما الفنون العلمية التي قام عليها دينه

إن مجرد الكلام بفكرة عالية وصياح مرتفعة لا ينفع لهذه الأمة قليلا ولا كثيرا

إنما ينفعها طلب العلم والعمل به والدعوة إليه

بارك الله فيكم

Di sana, di antara manusia, terdapat orang yang berbicara tentang Islam dan kebangkitan umat seolah dirinya adalah singa yang besar dan mujahid yang agung.

Akan tetapi —–duhai betapa kasihan —– dia tidak dikenal dari kalangan orang yang istiqomah dalam menuntut ilmu.

Dia tidak berhasrat untuk belajar bahasa Arab, tidak pula belajar tahsin (memperbaiki) tilawah, terlebih lagi bidang-bidang ilmu yang tegak di atasnya agamanya.

Sesungguhnya, sekedar berbicara dengan gagasan yang tinggi serta teriakan yang keras tidaklah bermanfaat bagi umat ini, baik sedikit ataupun banyak.

Hanyalah yang bermanfaat untuk (kebaikan) umat ini adalah mempelajari ilmu, mengamalkannya, serta berdakwah terhadapnya.

Barakallahu fiikum.

Ustadz Ammi Ahmad

Faidah Yang Sangat Penting :

 

Yang Menjadi Patokan Adalah Keadaan Yang Terlihat Sekarang, Bukan Yang Akan Datang

—–

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya yang menjadi patokan dalam suatu hal adalah yang terlihat sekarang, bukan yang akan datang. Engkau tidaklah dibebani dengan sesuatu yang di luar kuasamu.

Berdasarkan kaidah ini, maka kita dapat mengetahui jawaban dari pertanyaan yang seringkali muncul sebagai berikut,

Seorang laki-laki akan melamar seorang wanita yang sholehah, yang komitmen di atas agamanya, namun lelaki ini bukanlah lelaki yang komitmen di atas agama. Sang wanita pun berkeinginan untuk menikah dengannya, wanita Ini beralasan

“Semoga Allah memberikan hidayah-Nya melaluiku.”

Ini merupakan sebuah perkara di masa akan datang yang tidak kita ketahui, yang sekarang terlihat di depan kita, dia bukanlah laki-laki yang sholeh.

Apabila engkau beralasan,

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya melaluiku.

Kita jawab,

“Bisa jadi Allah menyesatkanmu melalui dia.”

Semuanya bisa terjadi, engkau tersesat karena dia itu lebih kuat daripada dia mendapatkan hidayah melaluimu.

Sebagaimana yang sudah diketahui, seorang laki-laki lebih berkuasa atas wanita daripada sebaliknya.

Betapa banyak suami yang membuat, memaksa istrinya hingga melakukan apa yang diinginkan suaminya meskipun sang istri tidak menginginkan hal tersebut.

Ini merupakan suatu hal yang sering kita saksikan dan terjadi.

(Syarah Bulughul Maram)

Penjelasan di atas merupakan faidah yang Syeikh Utsaimin rahimahullah jelaskan ketika membahas hadits Fathimah binti Qois. Dimana beliau berkonsultasi kepada Nabi terhadap 3 orang Sahabat yang datang melamarnya, akan tetapi Nabi memilihkan Sahabat yang terlihat lebih baik di mata Nabi pada saat itu.

Nabi melihat calon pertama (Abu Jahm) ringan tangan terhadap wanita, calon kedua (Muawiyyah bin Abi Sufyan) miskin, maka Nabi memilihkan calon yang ketiga ( Usamah). Pernikahan mereka pun bahagia karena berkah dari pilihan Rasulullah ini.

Bila Tak Yakin ‘Tuk Menikahinya

Engkau belum yakin menikahinya,

Padahal engkau tahu dia adalah seorang yang baik agamanya,

Haruskah kuingatkan lagi bahwa sesungguhnya Nabimu pernah bersabda,

“Pilihlah karena agamanya, jika tidak engkau kan merugi.”

Ini adalah sabda Nabimu,

Terserah engkau percaya atau tidak,

Namun ketahuilah,

Sungguh beliau tak pernah berbohong,

Itu adalah wahyu, bimbingan hidupmu dari Tuhan semesta alam.

Seharusnya inilah yang menjadi motivasi utamamu untuk menikahinya,

Demi menghindari kerugian dalam mengarungi sisa hidupmu kelak,

Agar engkau bisa terus Istiqomah hingga ajal menyapamu,

Tidakkah kau tahu,

Istiqomah bukanlah hal yang mudah,

Terlebih lagi di zaman kita sekarang.

Keindahan paras ‘kan pudar,
Kekayaan ‘kan sirna,
Kedudukan dan jabatan ‘kan berubah,

Namun agama yang baik ‘kan membantumu ‘tuk terus Istiqomah,

Sungguh, dia layak ‘tuk kau perjuangkan,

Tentukanlah pilihanmu,

jangan pernah ragu ‘tuk mengikuti petunjuk Nabimu…

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Kita Hidup dalam Susah Payah

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al-Balad – 4)

Imam Al Qurthubi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwasanya kesusah payahan yang dialami manusia sudah dialami sejak kecil. Mulai dari kesusah payahan ketika dilahirkan, ketika disapih, ketika mulai berbicara, ketika dikhitan, kesusah payahan berupa lapar & kesedihan, susah payah dalam belajar ( menghafal, memahami dan yang semisal), kesusah payahan ketika menikah dan hal-hal yang timbul karenanya, susah payah ketika mempunyai anak ( mendidiknya, memberi makan, mencari nafkah dan lain sebagainya), susah payah ketika keadaan tua, hingga kesusah payahan pada waktu matinya (sakaratul maut). Dan kemudian berlanjut kesusah payahan tersebut di alam kubur, padang masyhar, shiroth, hingga ke tempat akhir kembalinya.

——-

Sungguh merugilah manusia yang dari lahir hingga ke akhirat senantiasa bersusah payah, namun kesudahannya berakhir di Neraka.

Semoga Allah memasukkan kita ke SurgaNya kelak & melindungi kita dari pedihnya adzab Neraka.

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Matikan Kami di Atas Sunnah

Kalo sekiranya diberi usia panjang, namun trnyata tdk menjamin keistiqomahan. Apa lbh baik mati muda namun dlm keadaan di atas sunnah ya ustadz?

Mati muda di atas Sunnah itu lebih baik daripada berusia panjang namun tersesat di akhir perjalanannya. Oleh karena itu, Para salaf kita tidak pernah ada yg merasa aman selama mereka hidup, mereka takut tergelincir di akhir hayat. Namun, atas Kasih Sayang Allah, mereka yang seperti inilah yang kemudian akhirnya diberikan husnul khotimah. Allah jaga mereka dari yg mereka takutkan (su’ul khotimah) Dan Allah berikan kepada mereka yg mereka inginkan (yakni husnul khotimah).

Imam Abdullah bin Ibnil Mubarak rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, sesungguhnya aku melihat bahwa kematian pada hari ini merupakan kemuliaan bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan di atas Sunnah. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali.”

البدع لإبن وضّاح صـ/٨٤

Dari status fb Akh Boris Tanesia

Tentang Ilmunya, Sejauh Mana Ia Telah Amalkan

 

Yang terpenting itu bukanlah sekedar banyaknya ikut kajian sana sini, bukan pula sekedar jago berbahasa arab, atau deretan kitab yang sudah selesai dikaji.

Bukan dari seringnya menulis atau menshare postingan yang baik di media social.

Bukan pula sekedar share dan like, ikut titip jempol semata pada postingan yang kita suka tanpa adanya perubahan di dalam diri.

Akan tetapi yang bernilai kelak adalah amal perbuatan yang ikhlas yang terlahir dari itu semua, amal perbuatan yang mengubah pribadi seseorang sehingga dirinya semakin sesuai dengan petunjuk Nabi, jalan hidup Nabi, baik pola pikirnya, ibadahnya, lahiriahnya maupun batinnya.

Sungguh Allah sering berfirman di dalam Al Qur’an dengan perkataan (dan yang semisal),

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Balasan atas apa yang telah mereka amalkan.” [Surat Al-Waqi’ah 24]

Dia tidaklah berfirman,

“balasan atas apa yang telah mereka ketahui….”

Ini pulalah yang akan menjadi salah satu pertanyaan di hari kiamat kelak, sebagaimana dulu Nabi kita pernah katakan,

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara:

….

(Yang kedua) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan,

….

(HR. At-Tirmidzi disohihkan Al-Albany dalam Ash-Shohihah, 946)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.

(HR. Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam)

Dari status fb Akh Boris Tanesia